Showing posts with label Tuberkulosis. Show all posts
Showing posts with label Tuberkulosis. Show all posts

Wednesday, 19 August 2015

Efek Samping Terapi Injeksi


Memasuki minggu-minggu terakhir menjalani terapi injeksi, rasanya semakin tidak karuan saja. Pernah suatu hari setelah di suntik saya merasakan perih yang teramat sangat pada permukaan kulit. Saya tidak terlalu ambil pusing dan berjalan menuju ke rumah. Sampai di rumah, ketika saya ingin mengompres bekas suntikan, saya melihat noda darah di celana saya. Astaga, ternyata bekas suntikan itu mengucurkan darah dan membengkak cukup besar. Saya lalu meminta bantuan adik saya untuk membersihkan bekas luka dan mengompres dengan air yang lebih panas. Saya langsung bergegas mandi untuk membersihkan sisa darah yang keluar. Setelah mandi, saya menyadari bahwa bagian yang luka tadi membengkak lebih besar hingga seukuran bola pingpong. 



Tentu saya jadi tak nyaman dengan keadaan ini. Terutama saat duduk di kursi ruang makan yang terbuat dari kayu. Saya harus memiringkan badan karena terasa ada yang mengganjal ketika duduk. Esoknya saya lapor ke dokter jaga sebelum melakukan injeksi. Sang dokter menyatakan bahwa hal itu merupakan hal yang wajar, mengingat saya sudah lebih dari sebulan terus menerus disuntik di bagian yang itu-itu saja.

Terapi Injeksi


<--Klik di sini untuk tulisan sebelumnya

Posting kali ini niatnya ingin saya beri judul "Bokong yang Tersakiti", namun saya urungkan niat karena malah terlihat seperti headline koran Lampu Hijau. Kenapa bokong? Menurut para petugas Puskesmas, bagian bokong adalah tempat paling ideal untuk dilakukan tindak injeksi secara rutin dalam waktu lama. Bagian ini terlindung dari lapisan lemak yang cukup tebal sebelum bertemu otot. Resiko cedera dan trauma bisa lebih diminimalkan. Saya sih mengiyakan saja.

suntik, streptomisin, streptomycin, suntikan, jarum suntik, TBC, TB paru,

Setelah fix dengan jadwal suntik, saya jadi lebih tenang menjalani kegiatan sehari-hari. Walau tetap saja tidak bisa terlalu malam karena khawatir dengan kondisi fisik para perawat yang sudah lelah seharian bekerja. Khawatir mereka malah menyuntik yang bukan-bukan. Akibatnya, saya berkali-kali bolos kuliah (lagi)  yang terjadwal di sore hari. Salah sendiri mengadakan kelas jam 4 sore. Mahasiswa sehat saja belum tentu mau mengikuti kuliah full dari jam 8 pagi sampai 6 sore. Begitu kira-kira pembenaran saya. Mohon jangan ditiru.

Wednesday, 5 August 2015

Suntik Streptomycin


Kali ini saya akan melanjutkan tulisan saya tentang Tuberkulosis dan Pengobatannya. Sebelum masuk ke materi ada baiknya saya menjelaskan tentang sterptomycin. Streptomycin adalah obat antibiotik yang tergolong kuat dan biasa digunakan untuk mengatasi masalah TB berkelanjutan. Streptomycin tidak dapat dikonsumsi secara oral karena sifatnya yang merusak lambung. Jadi penggunaanya harus di aplikasikan melalui injeksi. Streptomycin berbentuk bubuk halus berwarna putih, tidak berbau, dan larut dalam air. Untuk melarutkan menjadi cairan injeksi,digunakan akuades murni. Kira-kira begitulah info yang saya dapatkan dari dokter dan juga pengamatan saya sendiri.

Suntik Streptomycin streptomisin streptomicin


Wednesday, 18 March 2015

Tuberkulosis dan Pengobatannya

Tanggal 13 Maret 2015 kemarin akhirnya saya menjalani pengobatan TB hari pertama. Obat-obatannya sama persis dengan yang saya konsumsi dulu. Dosisnya pun tidak berubah. Oleh sang dokter, saya dimasukkan dalam pasien kategori II (pasien yang pernah menjalani pengobatan sampai dinyatakan sembuh total, lalu kambuh).

Dan di sinilah tragedi dimulai. Karena kondisi itu, maka saya harus mendapat satu jenis terapi lagi, yaitu pengobatan dengan cara injeksi alias suntik. Terdengar cukup buruk? Ya, sampai akhirnya saya diberi penjelasan bahwa injeksi tersebut harus dilakukan selama 60 hari. Setiap hari tanpa putus. Di bagian mana? Sang dokter menjelaskan bahwa injeksi akan dilakukan di bagian belakang, alias bokong.

Tuesday, 17 March 2015

Dan Terjadi Lagi

Berawal dari 3 minggu lalu saat saya terbangun di pagi hari, di mana sinar mentari masih setia menyinari bumi, kicau burung terdengar bersahut-sahutan, dan jemuran terlihat menari-nari mengikuti arah angin. 
Tiba-tiba... *uhuk uhuk* *sroot*.

Ya, saya terkena flu.
Mungkin bagi anda dan sebagian besar orang lainnya menganggap ini adalah masalah sepele. Begitu juga saya (pada awalnya) yang berpikir ini hanyalah gangguan kecil akibat keadaan cuaca yang labil. Tanpa pikir panjang saya hanya membiarkan dan beraktivitas seperti biasa. Namun memasuki hari kedua saya merasa gangguan kali ini agak lain. Batuk semakin berat dan suara saya sudah mulai serak. Lalu saya berinisiatif pergi berobat ke puskesmas yang hanya berselang satu rumah dari tempat tinggal saya. Dari sana saya mendapat tiga macam obat lucu berukuran kecil dan berwarna mencolok.