Showing posts with label Sotoy. Show all posts
Showing posts with label Sotoy. Show all posts

Friday, 28 April 2017

Isu Usang


Sedikit lega mengetahui bahwa prosesi pemungutan suara Pilkada DKI sudah berakhir.

Itu artinya akan berakhir pula ribut-ribut soal polemik memilih pemimpin yang seiman, jenazah yang ditolak untuk disholatkan, serta sentimen negatif terhadap etnis dan agama tertentu. Semua akan segera berlalu.

Tapi benarkah demikian?

Saturday, 10 December 2016

Karena Mayoritas, Kita Harus Menindas


Tanpa ada perencanaan sebelumnya, blog ini tiba-tiba kembali kedatangan seorang penulis tamu. Penulis tamu kita kali ini adalah salah seorang blogger yang juga pakar dalam bidang miring. Penasaran seperti apa pemaparannya? Mari langsung saja kita sambut dengan meriah penulis tamu kita; Ustadz Abu Ghasshaq! (kata ‘Ustadz’ bukan merupakan gelar keagamaan, melainkan nama depan -red).

Karena Mayoritas, Kita harus Menindas

Oleh: Ustadz Abu Ghasshaq

sumber
Salam sejahtera.

Halo jemaah sekalian. Ape kabar nih?

Apakah ente sekalian udah merasa lega abis teriak-teriakan di Monas kemarin? Apa ente juga udah merasa semua emosi ente terlampiaskan di sana? Enak ye abis ngata-ngatain satu orang secara kompak bareng sodara seiman? Iya lah.

Siapa suruh itu orang duluan ngata-ngatain kitab suci kita? Ye gak? Pokoknya kalo sampe itu orang lolos, kita jangan sampe berpangku tangan. Kita sendiri yang harus memastikan itu orang gak bakalan lagi berkutik. Bakar! Bakar! Bakar!

Wednesday, 7 December 2016

Aksi Super Damai dan Superioritas Iman



Aksi Super Damai 212
sumber


Kalo gue disuruh menggambarkan pasca aksi super damai 212 lalu dengan satu kata, maka kata itu adalah ‘norak’. Iya, norak. Tapi tolong jangan dipelintir. Yang gue bilang norak adalah kehebohan pasca aksinya. Alias setelah aksi damai itu telah berakhir.

Aksi damainya sendiri berjalan dengan sangat baik. Gue pun mengapresiasi penuh aksi kemarin. Walau cuma melihat dari layar kaca, namun semangat para massa aksi itu terasa sampe ke bulu kuduk gue. Bikin merinding.

Terus kenapa pasca aksinya gue bilang norak?

Saturday, 26 November 2016

Mempertahankan Pendapat


Hampir dua bulan ini obrolan orang di sekitar gue ngga jauh-jauh dari persoalan seseorang yang melakukan penistaan agama. Bosen, iya. Jengah, pasti. Di timeline sosial media gue pun banyak bertebaran makhluk-makhluk yang saling beradu argumen. Tujuannya bukan buat diskusi, tapi hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya lah yang paling benar.

Dari awal kemunculan kasusnya, gue udah berusaha keras buat ngga ikut-ikutan. Biarpun tangan udah gatel banget mau menyanggah semua argumen konyol itu, namun apa daya, gue terlanjur malas. Akhirnya gue coba membiarkan mereka melanjutkan ‘diskusi’ tersebut sambil mengamati dalam diam.

Namun ngga gue sangka, dalam pengamatan itu gue menemukan suatu aktivitas unik yang muncul dari masing-masing pihak. Baik yang pro ataupun kontra. Aktivitas itu gue definisikan sebagai bentuk pertahanan terhadap sebuah fakta yang telah diyakini kebenarannya, dan ego untuk memaksa orang lain agar percaya pula dengan fakta tersebut.

sumber

Friday, 7 October 2016

Betapa Nikmatnya Menghujat Seseorang di Internet


Internet telah menyediakan ruang berekspresi seluas-luasnya untuk setiap orang. Terutama buat orang-orang yang kurang eksis di dunia nyata. 

Internet seakan menjadi satu-satunya jalan bagi mereka agar tetap dianggap ada. Sebuah taman bermain tanpa batas dan tempat berkarya dengan bebas.

Namun kini, di tengah derasnya aliran arus informasi, internet perlahan berubah menjadi rimba luas yang teramat ganas. Kebebasan berekspresi yang seharusnya dimanfaatkan untuk menciptakan hal-hal kreatif, malah dipergunakan untuk berbagai aktivitas negatif.

Salah satu aktivitas negatif yang belakangan sering gue lihat adalah makin banyaknya komentar pedas yang bertebaran di sosial media. Entah itu Twitter, Facebook, Youtube, atau Instagram.

sumber

Kesibukan gue sekarang emang mengharuskan gue buat menganalisa topik yang lagi hangat diperbincangkan di masyarakat. Itulah kenapa gue sering banget berkeliaran di berbagai sosial media untuk mencari informasi terkini. Sayangnya, yang banyak gue temukan bukannya pengetahuan, tapi malah bermacam cacian.

Yap, inilah hal lain yang ditawarkan oleh internet, sebuah kemudahan berkomunikasi. Di mana kita bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertatap muka langsung. Kemudahan yang kerap kali disalahgunakan untuk ‘menyerang’ orang lain secara virtual. Bahkan kepada orang asing yang belum pernah dijumpai sebelumnya. 

Gue sebenarnya udah menganggap fenomena ini sebagai penyakit. Penyakit mental lebih tepatnya. Karena menghina orang asing tanpa alasan yang jelas hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang ‘sakit’.

Wednesday, 14 September 2016

Jack Ma dan Geliat Pengusaha Indonesia


Pemerintah Indonesia akan menjadikan Jack Ma sebagai salah satu dewan penasihat kegiatan e-Commerce di Indonesia.

Begitulah kira-kira wacana yang sedang hangat diperbincangkan beberapa hari belakangan ini.

Jack Ma

Sejujurnya saya agak was-was ketika pertama kali mendengar wacana tersebut. Bukannya apa-apa, tapi pasar online di Indonesia memang sudah sejak lama menjadi incaran Alibaba, perusahaan yang berada dibawah kendali Jack Ma. Dengan memberikannya posisi dewan penasihat, sama saja kita mengantarkan daging segar kepada harimau lapar.

Friday, 2 September 2016

Menjual Air Mata


Berkutat di dunia bisnis online memaksa gue untuk harus selalu update tentang hal-hal kekinian. Gunanya adalah untuk membantu gue membuat konten yang relevan dan ngga ketinggalan zaman. Dengan begitu, produk yang gue pasarkan bisa direspon positif sama pasar. Dan ujung-ujungnya angka penjualan dapat meningkat pesat. Yang artinya apa? Yak, betul. Uang.

Namun sekeras apapun gue coba membuat konten yang kekinian, produk yang gue pasarkan tetap ngga begitu laris. Angka penjualan memang naik, tapi ngga signifikan. Beda banget sama pemain-pemain lain yang juga berkecimpung di bidang ini.

Padahal semua cara udah gue terapkan. Mulai dari menggunakan bahasa yang persuasif, menyelipkan unsur humor, membuat quote-quote motivasional, mengadakan kuis, hingga promo diskon gla-gilaan. Tapi hasilnya tetap ngga maksimal.

Karena penasaran, gue terus berusaha mencari cara paling efektif lewat observasi ke pemain-pemain besar lainnya. Gue coba perhatikan strategi yang mereka terapkan dengan teliti. Sampai akhirnya gue menemukan satu metode ajaib yang ngga pernah gue sadari sebelumnya.

Metode itu gue sebut dengan ‘mengeksploitasi air mata’.

Cara kerjanya adalah dengan menampilkan konten yang penuh muatan emosional. Kalo misalkan kontennya kurang menguras emosi, maka harus dilakukan dramatisasi. Bisa dengan menambahkan caption hiperbolis, atau menyelipkan narasi surrealis. Pokoknya apapun caranya agar bisa menyita perhatian dari pasar.

Friday, 15 July 2016

Pokemon Go dan Potensi Bahaya di Dalamnya



Beberapa hari terakhir, para gamers di seluruh dunia lagi heboh-hebohnya dengan sebuah game yang bernama Pokemon Go. Buat yang belum tau, Pokemon Go adalah sebuah game berjenis augmented reality, di mana game ini memasukkan unsur virtual ke dalam dunia nyata.

Kalo kalian pernah main game Mosquitos di HP Nokia jadul, nah kira-kira begitulah konsep augmented reality. Game Mosquitos bakal mengaktifkan kamera HP guna merekam keadaan di sekitar, lalu memasukkan nyamuk virtual ke dalam layar. Nyamuk-nyamuk virtual itu nantinya harus kita tembak dengan menekan tombol tertentu untuk mendapat skor.

Pokemon Go sebenarnya mirip seperti itu, cuma dalam level yang lebih tinggi lagi. Ngga hanya gambar dari kamera, game ini juga menyertakan fitur GPS. Jadi posisi pemain dan setting lokasi di dalam game didasarkan pada keadaan dunia nyata.

sumber


Dalam Pokemon Go, kita diharuskan untuk berkelana mencari monster-monster Pokemon yang berkeliaran di sekitar. Berhubung ini game augmented reality, maka ‘berkelana’ di sini diartikan secara harfiah. Yang berarti kita diwajibkan untuk benar-benar berjalan ke luar ruangan. Mencari keberadaan Pokemon dengan peta sesuai tempat di mana kita berada. Untuk penjelasan lebih lengkap bisa cek di sini.

Kedengarannya emang sangat menarik. Terutama bagi penggemar anime dan game versi jadul Pokemon di Nintendo. Kalo dulu mereka hanya bisa berburu Pokemon dalam game, sekarang mereka bisa melakukannya secara nyata. Ini ibarat sebuah mimpi yang menjadi kenyataan buat seluruh fans Pokemon di muka bumi.

Namun terlepas dari gameplay yang teramat keren, gue malah kepikiran soal faktor keamanannya.

Dengan konsep menggabungkan dunia game dan dunia nyata, game ini sebenarnya cukup membahayakan pemainnya. Terlebih buat orang-orang ceroboh macam gue ini. Karena saat lagi berburu Pokemon, kemungkinan besar perhatian kita tersedot sepenuhnya ke gadget dan menghiraukan keadaan sekitar.

Ngga usah jauh-jauh. Sore beberapa hari lalu, pas gue lagi beli cemilan ke luar rumah, gue melihat sendiri ada orang hampir celaka gara-gara Pokemon Go. Jadi, pemain Pokemon Go ini adalah seorang bocah. Dari awal gue udah mulai curiga sama cara jalannya yang serampangan. Ditambah lagi dia terus-terusan mantengin layar smartphone-nya..

Benar aja, ngga berapa lama dia mulai berjalan ke arah got di pinggir jalan sambil tetap melihat layar HP. Itu bocah hampir aja nyusruk ke dalam got. Untungnya sebelum itu terjadi, dia keburu diteriakin sama tukang-tukang makanan di dekat sana. 

Itu cuma satu contoh kecil dan sepele emang. Tapi coba lihat potensi bahaya yang timbul.

Si bocah tadi masih bisa dianggap beruntung karena dia bergerak ke arah pinggir jalan dan sempat disadarkan. Terus gimana kalo dia bergerak ke tengah jalan di mana banyak kendaraan yang berlalu-lalang? Gimana kalo di sekitarnya ngga ada orang yang meneriaki dia? Kebayang kan apa yang bakal terjadi?

Gue sendiri bukan tipe orang yang penuh kewaspadaan. Itulah mengapa gue selalu berhenti mencari tempat aman sekiranya harus membuka HP buat texting. Tapi Pokemon Go adalah hal yang berbeda. Kita ngga bisa diam aja. Karena untuk mencari Pokemon-nya, kita harus terus bergerak. Bergerak sambil terus menatap layar smartphone lebih tepatnya.

Serius, ini kegiatan yang berbahaya.

Kecelakaan lalu lintas sangat mungkin terjadi. Entah kita sebagai korban ataupun pelaku. Sekedar info, Pokemon Go ini memungkinkan kita berburu Pokemon menggunakan kendaraan. Dengan catatan kecepatannya harus sangat minim. Lah, jalan kaki sembari main gadget aja udah bahaya, apalagi kalo sambil naik motor atau mobil?

Dan potensi bahayanya bisa meningkat pesat apabila game ini dimainkan oleh anak-anak. Selain karena lebih ceroboh, anak-anak juga dinilai lebih mengundang tindak kejahatan. Ya, melihat ada bocah yang mengacung-acungkan smartphone tentu menjadi sebuah pemandangan menarik bagi para pelaku kriminal.

Kalo cuma diambil smartphone-nya mungkin ngga terlalu masalah. Toh, masih bisa diganti. Yang gue takutkan, tindak kejahatannya bergeser ke hal-hal yang ngga pernah kita duga sebelumnya. Maka dari itu gue ngga menyarankan para bocah untuk memainkan game ini. Terkecuali dalam pengawasan orang tua.

Oke, mungkin gue  terlalu berlebihan. Mungkin pada praktiknya kejadian buruk yang tertulis di atas ngga akan pernah terjadi. Mungkin itu semua hanya ada dalam awang-awang belaka. Gue harap juga  demikian. Dan gue yakin kalian pun berharap hal yang sama.

Namun sayangnya, potensi bahaya selalu ada.

Jadi, tetaplah berhati-hati~

Sunday, 20 December 2015

Ocehan tentang BPJS Kesehatan


BPJS Kesehatan.

Gue yakin kalian udah pada tau kepanjangan dari BPJS Kesehatan. Iya kan? Tapi gue juga yakin mayoritas dari kalian belum pernah menggunakan layanan ini secara intens. Beda sama gue yang hampir tiap bulan memanfaatkan BPJS Kesehatan *bangga*.

Oke, sebagai satu-satunya anak muda pengguna rutin  BPJS Kesehatan, gue akan coba membahas seputar BUMN yang satu ini. Anyway, biar ngga ribet nulisnya dan kalian ngga capek bacanya, istilah “BPJS Kesehatan” bakal gue singkat jadi “BPJS” aja ya.


BPJS Kesehatan askes bpjs


Semua info yang akan dibaca adalah hasil perbincangan gue sama berbagai kalangan, mulai dari petugas BPJS, orang Puskesmas, admin RS, dokter, perawat, kasir, apoteker sampe pasien BPJS lain. Kalo emang ada yang salah atau ada revisi peraturan bisa hubungi gue lewat kontak yang tersedia.

Baiklah, mari kita mulai.

Saturday, 12 December 2015

Salah Paham Berseragam


Gue agak kaget ketika melihat sebuah tayangan di televisi. Saat itu pemandangan yang tersaji adalah sekelompok pengendara ojek online sedang mengacak-acak salah satu mall di Jakarta. Permasalahannya emang lumayan pelik. Salah satu pengendara ojek meninggal ditusuk oleh juru parkir mall tersebut.

Kejadian di mall itu bisa dikatakan brutal abis. Ratusan pengendara ojek berseragam datang berbarengan sambil teriak-teriak ke segala arah. Ada di antara mereka yang berjalan sambil mengacungkan senjata semacam bambu atau balok kayu.

gojek, ojek online
ngeri

Orang-orang jelas pada panik ngeliat ini gerombolan barbar ini. Yang bawa anak langsung kelimpungan melindungi anak-anaknya. Pemilik toko buru-buru menutup lapak mereka. Nassar KDI tiba-tiba berubah jadi macho.Pengunjung yang lagi pada ngumpul segera membubarkan diri. Iya lah, siapa yang ngga resah ngeliat segerombolan mahluk berjaket hijau datang sambil mengacau.