Friday, 30 October 2015
Teruslah Merokok
“Pak, rokoknya tolong dimatiin ya.”
Terdengar suara bapak-bapak memecah keheningan di angkot yang gue tumpangi. Bukan, bukan gue yang ditegur. Melainkan seorang bapak yang sedang asyik merokok di dekat pintu. Dari awal sebenarnya gue juga udah risih sama ini orang. Di angkot yang penuh sesak, dengan santainya dia menikmati asap terkutuk itu.
Kalo dia sendiri yang menikmati sih ngga apa-apa, tapi masalahnya asap rokok dia itu memenuhi seluruh penjuru angkot. Yang paling kelihatan terganggu adalah mbak-mbak kantoran yang duduk tepat di sebelah perokok itu. Sepanjang perjalanan ngga terhitung berapa kali dia terbatuk-batuk.
Selain si mbak-mbak kantoran, ada juga seorang ibu-ibu yang duduk di depan perokok itu. Dia sibuk menutupi wajah anaknya menggunakan saputangan. Berusaha biar asapnya ngga mengganggu pernafasan si anak. Sesekali si ibu menatap tajam ke arah bapak perokok dengan pandangan membunuh.
Wednesday, 21 October 2015
Hening yang Lebih Sunyi dari Kesendirian
Lewat desau angin yang membelai hangatnya senja, biar kubisikkan sepenggal pertanyaan tentang penuhnya sebuah kekosongan.
Apa kabar, kamu?
Masih samakah keadaanmu sekarang dengan kamu pada sore itu? Seberkas sore dalam sebuah taman yang di bawah langitnya kita duduk berdampingan. Di mana udara sekitar kita semarak dengan parfum beraroma teh milikmu yang semerbak. Sore tatkala sepasang kursi yang berkarat menyaksikan bahwa kita pernah begitu dekat. Erat dan lekat.
Sore yang sayangnya jadi kali terakhir kita saling bertukar ucap dan beradu tatap.
Ada sedikit rasa sesal soal mengapa aku tak memberimu dekap paling gegap sebelum kamu lenyap. Secuil kecewa karena aku hanya sempat beberapa waktu menggenggam tanganmu sebelum kamu berpaling menjauh.
Dan sekarang, kamu hilang.
Lekas bergegas menerabas batas yang bias.
Namun sekarang, aku datang.
Kembali, demi menikmati semua memori. Seorang diri.
Sunday, 18 October 2015
Teralienasi
Gue dianggap aneh.
Setidaknya ini yang terlihat dari sikap mereka terhadap gue. Mereka yang gue maksud adalah teman-teman gue di kampus yang sekarang. Sering kejadian, saat gue dateng, suasana mendadak awkward. Yang tadinya penuh tawa, jadi hening seketika. Saat gue menyapa, ngga ada kehangatan yang terasa. Segalanya serba canggung.
Kejadian itu memaksa gue buat menginstropeksi diri. Yang lalu memunculkan satu gagasan; ini disebabkan lingkungan tempat gue berada. Dari SD, SMP, sampai SMA gue selalu belajar di sekolah negeri. Bahkan kampus lama gue juga kampus negeri. Favorit pula. Tapi sekarang, gue harus dihadapkan pada kenyataan untuk berkuliah di kampus swasta. Gue nggak tau apa hal itu berkaitan atau nggak, tapi yang jelas gue merasa kesulitan bersosialisasi di sini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
