Saturday, 10 December 2016

Karena Mayoritas, Kita Harus Menindas


Tanpa ada perencanaan sebelumnya, blog ini tiba-tiba kembali kedatangan seorang penulis tamu. Penulis tamu kita kali ini adalah salah seorang blogger yang juga pakar dalam bidang miring. Penasaran seperti apa pemaparannya? Mari langsung saja kita sambut dengan meriah penulis tamu kita; Ustadz Abu Ghasshaq! (kata ‘Ustadz’ bukan merupakan gelar keagamaan, melainkan nama depan -red).

Karena Mayoritas, Kita harus Menindas

Oleh: Ustadz Abu Ghasshaq

sumber
Salam sejahtera.

Halo jemaah sekalian. Ape kabar nih?

Apakah ente sekalian udah merasa lega abis teriak-teriakan di Monas kemarin? Apa ente juga udah merasa semua emosi ente terlampiaskan di sana? Enak ye abis ngata-ngatain satu orang secara kompak bareng sodara seiman? Iya lah.

Siapa suruh itu orang duluan ngata-ngatain kitab suci kita? Ye gak? Pokoknya kalo sampe itu orang lolos, kita jangan sampe berpangku tangan. Kita sendiri yang harus memastikan itu orang gak bakalan lagi berkutik. Bakar! Bakar! Bakar!

Wednesday, 7 December 2016

Aksi Super Damai dan Superioritas Iman



Aksi Super Damai 212
sumber


Kalo gue disuruh menggambarkan pasca aksi super damai 212 lalu dengan satu kata, maka kata itu adalah ‘norak’. Iya, norak. Tapi tolong jangan dipelintir. Yang gue bilang norak adalah kehebohan pasca aksinya. Alias setelah aksi damai itu telah berakhir.

Aksi damainya sendiri berjalan dengan sangat baik. Gue pun mengapresiasi penuh aksi kemarin. Walau cuma melihat dari layar kaca, namun semangat para massa aksi itu terasa sampe ke bulu kuduk gue. Bikin merinding.

Terus kenapa pasca aksinya gue bilang norak?

Saturday, 26 November 2016

Mempertahankan Pendapat


Hampir dua bulan ini obrolan orang di sekitar gue ngga jauh-jauh dari persoalan seseorang yang melakukan penistaan agama. Bosen, iya. Jengah, pasti. Di timeline sosial media gue pun banyak bertebaran makhluk-makhluk yang saling beradu argumen. Tujuannya bukan buat diskusi, tapi hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya lah yang paling benar.

Dari awal kemunculan kasusnya, gue udah berusaha keras buat ngga ikut-ikutan. Biarpun tangan udah gatel banget mau menyanggah semua argumen konyol itu, namun apa daya, gue terlanjur malas. Akhirnya gue coba membiarkan mereka melanjutkan ‘diskusi’ tersebut sambil mengamati dalam diam.

Namun ngga gue sangka, dalam pengamatan itu gue menemukan suatu aktivitas unik yang muncul dari masing-masing pihak. Baik yang pro ataupun kontra. Aktivitas itu gue definisikan sebagai bentuk pertahanan terhadap sebuah fakta yang telah diyakini kebenarannya, dan ego untuk memaksa orang lain agar percaya pula dengan fakta tersebut.

sumber