Friday, 10 June 2016

Kacang dan Penggunjing

Sebagai penikmat bubur ayam, saya seringkali dibuat kesal dengan hadirnya sesendok kacang tanah di sana. Kacang tanah, dengan teksturnya yang keras, telah merusak kesempurnaan komposisi semangkuk bubur yang penuh kelembutan. 

Bubur, kuah kaldu, suwiran ayam, daun seledri, bawang goreng, serta kecap, semuanya bertekstur lembut. Jikapun ada yang harus bertesktur tidak lembut, maka tempat itu telah diisi oleh kerupuk yang crispy dan renyah. Bukan kacang.

sumber

Kacang tanah goreng tidak seharusnya berada dalam semangkuk bubur. Ini merupakan sebuah penistaan kuliner.

Sama halnya dengan kacang dalam bubur, tatanan hidup bermasyarakat kita pun tak luput dari penistaan atau penodaan. Dalam hal ini, pelaku utama penodaannya adalah para manusia yang gemar membicarakan orang lain. Atau nama lainnya, penggunjing.

Dan berbekal pengamatan selama bertahun-tahun, saya coba membagi manusia -manusia tersebut ke dalam tiga kelompok besar.

Friday, 27 May 2016

Menyerahlah




Coba kau renungkan kembali. Ingatlah semua cucuran keringat bercampur airmata yang selama ini terus menetes. Membanjiri dirimu dengan aliran pengharapan. Dan setelah semua hampir terlewati, kau tetap takkan mendapat apa yang kau inginkan. Lalu kau memilih untuk meneruskan semua kesia-siaan itu?

Mengapa tak menyerah saja?

Bukankah menyerah jauh lebih baik untukmu? Sebab hidup dalam ilusi akan membuatmu semakin terjepit. Kau bertingkah seolah semua baik saja, padahal tidak. Kau bermaksud membuktikan pada semua orang bahwa kau bisa, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Kau takkan pernah bisa.

Lihat dirimu. Seseorang yang tidak pantas meraih angan-angannya sendiri. Tidakkah kau merasa bermacam celoteh yang merendahkanmu itu memang benar adanya? Pernahkah kau berpikir bahwa kau memang tidak berhak menggapai segalanya?

Lihat mereka. Orang-orang yang menghendakimu agar secepatnya terjatuh. Amati kembali senyum sinis mereka. Dengarkan gelak tawa yang penuh penistaan itu. Hiruplah aroma kebencian yang menyeruak dari tiap helaan nafas mereka.

Begitu banyak orang yang berharap agar kau segera terjerembab jatuh ke dalam jurang terdalam keterpurukan. Namun kau bersikeras agar tetap berjuang tanpa memedulikan mereka. Untuk apa, kawan? Mengapa tak menyerah saja?

Kepada siapa lagi kau coba membuktikannya? 

Segala ucapan baik yang ditujukan kepadamu hanyalah omong kosong belaka. Jauh di dalam hatinya, orang-orang terdekatmu selalu menginginkan agar kau menyudahi perjuanganmu selama ini. Mereka ingin kau mematikan saja api harapan dalam hatimu.

Api harapan yang bahkan menyala terlalu kecil. Terlalu menyedihkan untuk dilihat sebagai sumber cahaya. Api yang nyaris padam, namun selalu kau lindungi agar tetap menyala. Untuk apa kau lakukan itu, kawan? Mengapa tak kau matikan saja api itu?

Sisa tenagamu kini sudah berada di titik penghabisan. Bahkan hembusan angin yang begitu lemah dapat membuatmu terhempas. Langkahmu terasa goyah ketika menapaki jalan hidupmu yang penuh liku. Namun untuk apa kau terus berjalan, kawan?

Mengapa tak menyerah saja?

Kini coba resapi rasa sakit itu. Yang timbul akibat penghinaan dan pengkhianatan. Butuh berapa kali lagi kau merasakan kesakitan itu? Sampai di penghujung penyesalanmu nanti? Ketika semua sudah terlambat?

Menyerahlah, kawan.

Agar mereka yang membencimu dapat tertawa puas.


Tuesday, 24 May 2016

Tulisan yang Salah


Mengutip pernyataan Eka Kurniawan, penulis buku Lelaki Harimau, bahwa blog adalah sebuah platform yang unik. Blog bersifat personal, tapi sekaligus global. Sebab apa yang ditulis di sana sebagai cerita pribadi juga bisa dilihat jutaan orang di seluruh dunia.

Hal yang kurang lebih mirip baru aja gue rasakan seminggu kemarin.

Berawal dari rasa gemas melihat penyebaran berita berlebihan tentang senior gue yang meninggal dunia, gue jadi terbawa emosi. Gue menuliskan di blog ini sebuah postingan yang menyudutkan profesi tertentu. Lalu langsung membagikannya di akun sosmed pribadi gue.

Awalnya emang ngga ada yang peduli. Mungkin semua menganggap tulisan gue pastilah basi. Sampai pada malam setelahnya, ada seorang teman yang membaca. Lalu dia merasa tertarik dan membagikan tulisan gue di akun sosmed-nya dengan menambahkan sedikit opini pribadinya.

Tanpa diduga, tulisan gue mendadak jadi viral. Dibagikan puluhan kali dan dibaca ribuan orang dalam waktu yang terbilang singkat. Sebagai blogger amatir, pastinya gue senang melihat kenyataan ini. 

Setelah tulisan tadi jadi viral, pengunjung blog gue meningkat pesat. Bayangin aja, dalam sehari, jumlah pembacanya hampir menyamai setengah jumlah pengunjung dalam setahun. Grafik pun melonjak tajam. Bahkan tiap me-refresh halaman, pengunjungnya terus aja bertambah. Gokil.